Minggu, 20 Desember 2015

sejarah asal usul desa Tanah Periuk

SEJARAH PEMBERIAN NANA DAN ASAL USUL DESA TANAH PERIUK KABUPATEN BUNGO JAMBI

A.   Pemberian Nama
Pada Zaman Purba kala, nenek moyang kita belum bisa menciptakan kecanggihan seperti saat sekarang ini. Seluruh peralatan yang digunkan dalam memenuhi kebutuhan hidup dibuat secara tradisional, tidak seperti peralatan yang digunakan pada saat sekarang ini.
Makanan pokok nenek moyang tanah periuk adalah nasi yang bahan bakunya adalah beras. Untuk memperoses beras menjadi nasi harus di rebus (tanak) trlebih dahulu. Unutk merebus beras harus mempunyai sebuh wadah (tempat). Periuk pada zaman dahulu belum ada pada saat itu, apalagi peralatan canggih magic com seperti saat sekarang ini. Maka terbayanglah dibenak nenek moyang kami untuk menciptakan wadah untuk menanak nasi.
Berbagai bahan baku telah dicoba untuk membuat wadah tersebut, termasuk kayu, batu, dan tanah. Nampaknya bahan baku tanah lebih epektif dan tahan untuk membuat tempat memasak / merebus kebutuhan hidup. Maka terciptalah sebuah periuk yang bahan bakunya bersal dari tanah yang dikenal dengan nama “belanga” .
Berawal dari itulah Desa Tanah Periuk yang meupakan salah satu Desa tertua di Kabupaten Bungo adalah satu-satunya desa yang pertama menciptakan “belanga” tampat memasak nasi pada zaman dahulu. Maka diberilah nama Desa tersebut dengan Desa “Tanah Periuk”.
B.  Asal Berdirinya Desa Tanah Periuk
Tanah Periuk dibangun oleh rombongan dari pulau Jawa dari Mataram. Rombongan ini dipimpin oleh seorang yang bergelar Sri Mangkubumi. Alasan kedatangan rombongan ini adalah akibat perang saudara. Diperkirakan kedatangan rombongan pada tahun 1650-an setelah wafatnya Sultan Agung Hanyokrokusumo. Setelah Sultan Agung wafat Mataram dipimpin oleh Amangkurat I. Amangkurat I berpihak dan tunduk terhadap VOC (Belanda) dan terkenal kejam kepada lawan-lawan politiknya. Menurut Sejarawan Ahmad Mansur Suryanegara dalam Api Sejarah, Amangkurat I pernah membunuh hingga 6000 ulama. Dia menggelari dirinya Susuhuna yang dimaknai lebih mulia dan hebat dari pada para Sunan (Waliyullah). Sehingga selama pemerintahannya banyak terjadi perlawanan baik dari ulama seperti Sunan Giri maupun keluarga kerajaan lainnya. Pemerintahan Amangkurat I berakhir dengan pemberontakan Trunojoyo.
Sri Mangkubumi adalah kelompok yang menentang VOC dan Sultan Mataram (Amangkurat I) waktu itu. Oleh karena situasi kerajaan yang tidak kondusif, maka Sri Mangkubumi mengadakan Musyawarah. Hasil musyawarah tersebut diputuskan mereka harus meninggalkan kerajaan Mataram menuju Sumatra bersama dengan pengikut setianya. Sri Mangkubumi menyiapkan perbekalan dan melakukan perjalanan hijrah ke sumatra dengan anggota rombongan lebih kurang 40 kepala keluarga. Tujuan perjalanan tersebut adalah Kesultanan Jambi.
Kesultanan Jambi memang sudah lama menjalin kerjasama baik dengan kerajaan di Pulau Jawa. Hal ini diceritakan pula dalam Legenda Rangkayo Hitam yang mempersunting Putri Mataram (Demak-red). Keris siginjei sebagai lambang kesultanan jambi juga dibuat di Jawa sebagai tanda persahabatan Jambi dan Jawa. Pada Masa Sultan Agung masih hidup Jambi sudah menjalin hubungan baik dengan Mataram. Sultan Abdul Kahhar yang memerintah kala itu juga tidak menyukai VOC. Beberapa kali Jambi membantu Mataram memerangi VOC.
Rombongan Mangkubumi berangkat menggunakan Jung atau Penjalang, jenis kapal layar tradisional yang dipakai oleh kerajaan-kerajaan masa lampau. Rombongan tersebut singgah di Pelabuhan Sabak, dekat Pulau Berhala, Kesultanan Jambi, daerah Tanjung Jabung saat ini. Perjalanan diteruskan ke pusat kerajaan Tanah Pilih menemui Sultan Jambi saat itu Sultan Abdul Jalil bergelar Pangeran Adipati Anom. Di Jambi rombongan Mataram bertemu dengan Debalang raja Jambi yang bertugas menyambut kedatangan rombongan tersebut.  
Sultan Jambi tidak percaya begitu saja terhadap rombongan tersebut terutama istri raja jambi yang juga keturunan Mataram. Untuk meyakinkan, maka Sri Mangkubumi mengeluarkan Gupil / Stempel yang bertuliskan aksara jawa. Sri Mangkubumi hanya memiliki 2/3 bagian gupil karena selebihnya disimpan oleh istri Sultan Jambi yang bernama "Ayunan Tunggal". Setelah dicocokkan kedua gupil tersebut maka barulah rombongan tersebut dipercayai sebagai rombongan bangsawan Mataram.  
Raja Jambi kemudian memberi kuasa rombongan jawa tersebut untuk mengambil wilayah dari Tembesi hingga ke barat daerah Kesultanan Jambi yang berbatasan dengan Kerajaan Pagaruyung, Sumatera Barat. Rombongan tersebut diiringi oleh beberapa orang utusan Kesultanan Jambi sebagai penunjuk jalan. Perjalanan ditempuh lewat air dengan menyusuuri Sungai Batanghari dan diteruskan masuk ke Sungai Batangtebo terus menyusuri hingga ke hulu sungai.
Perjalanan melelahkan tersebut memakan waktu yang cukup lama dan menghantarkan rombongan pada daerah seperti berkeluk (kelok) yang bentuknya berkelok seperti meringkuknya kucing yang sedang tidur. Diseberang keluk tersebut terlihat daratan yang disinari rembulan. Untuk mengingat tempat tersebut rombongan menamai daerah tersebut Pulau Sri Bulan dan Keluk Kucing Tidur. Disanalah rombongan berhenti dan membangun pemukiman. Daerah tersebut di namai Balai Panjang mengacu pada perumahan yang dibangun ketika itu, rumah adat balai panjang yang hingga hari ini masih tersisa sebagai rumah tuo, Komplek Rumah Tuo. Balai Panjang menjadi pemukiman pertama di Kecamatan Tanah Sepenggal dan menjadi ibukota marga Tanah Sepenggal sebelum dipindahkan ke Pasar Lubuk Landai.
Sekitar abad ke 19 di Balai Panjang banyak aktivitas pembuatan kerajinan tangan dari tanah liat, hasilnya bermacam-macam salahsatunya adalah periuk. Aktivitas bersejarah ini kemudian menjadi inspirasi penamaan wilayah tersebut menjadi Tanah Periuk. Nama Tanah Periuk kemudian menggantikan Balai Panjang hingga hari ini. Sampai tahun 1910 sebelum Jambi dikuasai belanda, Balai Panjang yang ketika itu sudah berubah menjadi Tanah Periuk menjadi pusat pemerintahan di Bungo. Pangeran Anom yang berkedudukan di Tanah Periuk memimpin 8 bathin yang ada di kabupaten bungo.
Oleh : Putra Bulim Nurdin, S.Ag