SEJARAH
PEMBERIAN NANA DAN ASAL USUL DESA TANAH PERIUK KABUPATEN BUNGO JAMBI
A. Pemberian Nama
Pada Zaman Purba kala, nenek moyang kita belum bisa
menciptakan kecanggihan seperti saat sekarang ini. Seluruh peralatan yang
digunkan dalam memenuhi kebutuhan hidup dibuat secara tradisional, tidak
seperti peralatan yang digunakan pada saat sekarang ini.
Makanan pokok nenek moyang tanah periuk adalah nasi yang
bahan bakunya adalah beras. Untuk memperoses beras menjadi nasi harus di rebus
(tanak) trlebih dahulu. Unutk merebus beras harus mempunyai sebuh wadah
(tempat). Periuk pada zaman dahulu belum ada pada saat itu, apalagi peralatan
canggih magic com seperti saat sekarang ini. Maka terbayanglah dibenak nenek
moyang kami untuk menciptakan wadah untuk menanak nasi.
Berbagai bahan baku telah dicoba untuk membuat wadah
tersebut, termasuk kayu, batu, dan tanah. Nampaknya bahan baku tanah lebih
epektif dan tahan untuk membuat tempat memasak / merebus kebutuhan hidup. Maka
terciptalah sebuah periuk yang bahan bakunya bersal dari tanah yang dikenal
dengan nama “belanga” .
Berawal dari itulah Desa Tanah Periuk yang meupakan salah
satu Desa tertua di Kabupaten Bungo adalah satu-satunya desa yang pertama
menciptakan “belanga” tampat memasak
nasi pada zaman dahulu. Maka diberilah nama Desa tersebut dengan Desa “Tanah Periuk”.
B. Asal Berdirinya
Desa Tanah Periuk
Tanah Periuk dibangun oleh rombongan dari pulau Jawa dari
Mataram. Rombongan ini dipimpin oleh seorang yang bergelar Sri Mangkubumi.
Alasan kedatangan rombongan ini adalah akibat perang saudara. Diperkirakan
kedatangan rombongan pada tahun 1650-an setelah wafatnya Sultan Agung
Hanyokrokusumo. Setelah Sultan Agung wafat Mataram dipimpin oleh Amangkurat I.
Amangkurat I berpihak dan tunduk terhadap VOC (Belanda) dan terkenal kejam
kepada lawan-lawan politiknya. Menurut Sejarawan Ahmad Mansur Suryanegara dalam
Api Sejarah, Amangkurat I pernah membunuh hingga 6000 ulama. Dia menggelari
dirinya Susuhuna yang dimaknai lebih mulia dan hebat dari pada para Sunan
(Waliyullah). Sehingga selama pemerintahannya banyak terjadi perlawanan baik
dari ulama seperti Sunan Giri maupun keluarga kerajaan lainnya. Pemerintahan
Amangkurat I berakhir dengan pemberontakan Trunojoyo.
Sri Mangkubumi adalah kelompok yang menentang VOC dan Sultan
Mataram (Amangkurat I) waktu itu. Oleh karena situasi kerajaan yang tidak
kondusif, maka Sri Mangkubumi mengadakan Musyawarah. Hasil musyawarah tersebut
diputuskan mereka harus meninggalkan kerajaan Mataram menuju Sumatra bersama
dengan pengikut setianya. Sri Mangkubumi menyiapkan perbekalan dan melakukan
perjalanan hijrah ke sumatra dengan anggota rombongan lebih kurang 40 kepala
keluarga. Tujuan perjalanan tersebut adalah Kesultanan Jambi.
Kesultanan Jambi memang sudah lama menjalin kerjasama baik
dengan kerajaan di Pulau Jawa. Hal ini diceritakan pula dalam Legenda
Rangkayo Hitam yang mempersunting Putri Mataram (Demak-red). Keris siginjei
sebagai lambang kesultanan jambi juga dibuat di Jawa sebagai tanda persahabatan
Jambi dan Jawa. Pada Masa Sultan Agung masih hidup Jambi sudah menjalin
hubungan baik dengan Mataram. Sultan Abdul Kahhar yang memerintah kala itu juga
tidak menyukai VOC. Beberapa kali Jambi membantu Mataram memerangi VOC.
Rombongan Mangkubumi berangkat
menggunakan Jung atau Penjalang, jenis kapal layar tradisional yang
dipakai oleh kerajaan-kerajaan masa lampau. Rombongan tersebut singgah di
Pelabuhan Sabak, dekat Pulau Berhala, Kesultanan Jambi, daerah Tanjung Jabung
saat ini. Perjalanan diteruskan ke pusat kerajaan Tanah Pilih menemui Sultan
Jambi saat itu Sultan Abdul Jalil bergelar Pangeran Adipati Anom. Di Jambi
rombongan Mataram bertemu dengan Debalang raja Jambi yang bertugas
menyambut kedatangan rombongan tersebut.
Sultan Jambi tidak percaya begitu saja terhadap rombongan
tersebut terutama istri raja jambi yang juga keturunan Mataram. Untuk
meyakinkan, maka Sri Mangkubumi mengeluarkan Gupil / Stempel
yang bertuliskan aksara jawa. Sri Mangkubumi hanya memiliki 2/3 bagian gupil
karena selebihnya disimpan oleh istri Sultan Jambi yang bernama "Ayunan
Tunggal". Setelah dicocokkan kedua gupil tersebut maka barulah rombongan
tersebut dipercayai sebagai rombongan bangsawan Mataram.
Raja Jambi kemudian memberi kuasa rombongan jawa tersebut
untuk mengambil wilayah dari Tembesi hingga ke barat daerah Kesultanan Jambi
yang berbatasan dengan Kerajaan Pagaruyung, Sumatera Barat. Rombongan tersebut
diiringi oleh beberapa orang utusan Kesultanan Jambi sebagai penunjuk jalan.
Perjalanan ditempuh lewat air dengan menyusuuri Sungai Batanghari dan
diteruskan masuk ke Sungai Batangtebo terus menyusuri hingga ke hulu sungai.
Perjalanan melelahkan tersebut memakan waktu yang cukup lama
dan menghantarkan rombongan pada daerah seperti berkeluk (kelok) yang bentuknya
berkelok seperti meringkuknya kucing yang sedang tidur. Diseberang keluk
tersebut terlihat daratan yang disinari rembulan. Untuk mengingat tempat
tersebut rombongan menamai daerah tersebut Pulau Sri Bulan dan Keluk Kucing
Tidur. Disanalah rombongan berhenti dan membangun pemukiman. Daerah tersebut di
namai Balai Panjang mengacu pada perumahan yang dibangun ketika itu, rumah adat
balai panjang yang hingga hari ini masih tersisa sebagai rumah tuo, Komplek
Rumah Tuo. Balai Panjang menjadi pemukiman pertama di Kecamatan Tanah Sepenggal
dan menjadi ibukota marga Tanah Sepenggal sebelum dipindahkan ke Pasar Lubuk
Landai.
Sekitar abad ke 19 di Balai Panjang banyak aktivitas
pembuatan kerajinan tangan dari tanah liat, hasilnya bermacam-macam
salahsatunya adalah periuk. Aktivitas bersejarah ini kemudian menjadi inspirasi
penamaan wilayah tersebut menjadi Tanah Periuk. Nama Tanah Periuk kemudian menggantikan
Balai Panjang hingga hari ini. Sampai tahun 1910 sebelum Jambi dikuasai
belanda, Balai Panjang yang ketika itu sudah berubah menjadi Tanah Periuk
menjadi pusat pemerintahan di Bungo. Pangeran Anom yang berkedudukan di Tanah
Periuk memimpin 8 bathin yang ada di kabupaten bungo.
Oleh : Putra Bulim Nurdin, S.Ag


👍👍
BalasHapus